Saparan! Merasakan Silaturahmi Desa Sumogawe Kabupaten Semarang Yang Langka (Indonesia & English)

Saparan! Merasakan Silaturahmi Desa Sumogawe Kabupaten Semarang Yang Langka (Indonesia & English)

Tari Prajuritan [@travellerscouple_id]
Saparan merupakan tradisi Jawa yang dilaksanakan saat bulan Safar pada kalender Jawa. Sebagian besar, acara ini dimaksudkan untuk kegiatan Sedekah Bumi ataupun untuk melaksanakan tradisi di desa tersebut. Demikian pula tradisi budaya Saparan di Dusun Krajan, Desa Sumogawe, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang.

Pada saat Pangeran Diponegiri ditangkap oleh penjajah diantara tahun 1825-1830, Kyai dan Nyai Gawe pun disemayamkan di Desa Sumogawe. 
Sumo menikah dengan sumokerti
Dusun tambangan dari prajurit bernama Tambakrejo, kakak adik sama sumakerti pendiri sumogawe. Peninggalan pohon beringin yg ada sumber airnya

Tradisi saparan dilakukan setiap tahun sekali. Bukan sembarang hari bisa dilaksanakan tradisi tersebut, harus menurut ketentuan dari para leluhur desa. Sebelum ditentukan hari Saparan tiba, dilaksanakan namanya tradisi Metokan(Slametan) untuk penyambutan sekaligus hari jatuhnya Saparan. Slametan disini juga banyak jenisnya, mulai dari slametan jalan(bersyukur dan sebagai wujud terimakasih adanya jalan) sampai slametan air/matbanyu(bersyukur atas melimpah ruahnya sumber air disini).

Desa Sumogawe menjadi salah satu desa paling luas di Kabupaten Semarang, dihuni oleh 14 Perdukuhan (Pendingan, Wates, sumogawe, magersari, tambangan, kembang, Dalangan, Bumiharjo, Bumiayu,muji,Kenteng,piji, pringapus) dusun dan setiap dusun terdiri kurang lebih dari 12 Rw. 

Yang unik disini, Saparan seolah menjadi lebaran versi KW nya. Suasana ramai, masyarakat saling berkunjung dan bersilaturahmi, hal yang acapkali jarang kita temu dan rasakan saat hidup diperkotaan. Serupa dengan lebaran, setiap rumah disini juga menyajikan hidangan diatas meja lengkap dengan deretan kursi yang disiapkan guna menjamu para tamu sanak saudara sampai kawan lama. Ramenya mulai dari pukul 12.00 siang sampai ambyar(se-selesainya tamu berkunjung maksudnya...wkwk). Bukan seperti hatimu, semakin sore semakin sendu... Saparan disini, semakin sore semaikin ramai tamu untuk bersilaturahmi.

Jarang kita temui, disini saparan berarti kita mengundang sanak keluarga jauh/kawan lama/kawan kerja/sekolah/kawan alumni/(mantan bahkan sampai alumni mantan.. saking banyaknya wkwk) untuk kembali mengeratkan genggaman dan tali silaturahmi yang sudah terjalin. Saparan disini juga dilaksanakan seharian penuh, jadi tenang... banyak waktu kok. Dalam sehari itu, kurang lebih hampir 100 orang berkunjung ke setiap rumah warga secara bergantian. Bisa juga menjadi ajang cari jodoh, bagi kamu-kamu yang beruntung disini...wkwk.



Dihuni oleh 14 Perdukuhan yang berbeda dan memiliki karakteristik masing-masing, menjadikan Desa Wisata Sumogawe kaya akan ragam kesenian kebudayaan. Mulai dari Reog Sumogawe, Tari Keprajuritan sampai Tari Jaranan.

Dengan sinergitas yang apik antara Pokdarwis(Kelompok Sadar Wisata) dengan Pemuda Karang Taruna Desa Sumogawe, menjadikan perkembangan diberbagai sektor disini menjadi semakin pesat. Inovasi dan kreasi dari para pemuda disini sukses menyulap desa ini menjadi salah satu tempat persinggahan favorit para traveller yang berkunjung di Kabupaten Semarang.

Jangan kaget saat ada teriakan-teriakan "Ken nyusu!". Bukan, bukan kata-kata kotor, bukan pula rayuan atau gombalan(yang sering kamu lakukan dimana-mana itu...wkwk). Memang, disini taglinenya "Ken Nyusu!" yang memiliki arti disuruh minum susu. Jadi kurang lengkap kalau saat ke Desa Wisata Sumogawe tanpa mencicipi susu khas disini.

Saat aku ke lokasi, kebetulan tradisi saparan ini sedang berlangsung di Dusun Kraja,/ 

Desa wisata Sumogawe dikenal dengan Desa Wisata Kampugn Susu. Bukan tanpa alasan, hal tersebut dikarenakan hampir sebagian besar (mencapai 80%) masyarakat didesa tersebut merupakan peternak sapi perah. Sapi seolah menjadi bagian dari keluarga warga disini, yang tak boleh terabai dari kasih sayang dan kepedulian(seperti perhatianmu yang seringkali tak terbalas itu... wkwk). Disini semua pandangan akan didominasi oleh peternakan sapi perah dan rumput gajah(sering bingung juga, ternyata sapi disini makan rumputnya gajah...hmm).

Pemerasan sapi itu 2x sehari, jam 5 dan 15.30,
Sebelum di perah, dibersihin sapi, ngarit rumpun
Ngambil susu gakboleh telat lebaran ataupun kondangan,

Selain sebagai desa susu, Sumogawe juga memiliki beberapa tumbuhan beberapa buah-buahan endemik, seperti buah alpukat dan pisang Sumogawe.

Semakin Betah di Desa wisata Sumogawe karena masyarakatnya yang ramah dan murah senyum(jadi salting kan jadinya...wkwk). 

Saat hari Saparan tiba, masing-masing RW di Dusun Krajan sudah mempersiapkan serta merancang desain kenduri ataupun uborampe semenraik dan seunik mungkin yang akan diarak keliling desa nantinya.

Ditutup oleh penampilan Tari Prajuritan yang memukai dari Paguyuban Wahyu Kusumo Sari dari dukuh Magersari, menjadikan kunjungan kali ini terasa spesial dan sangat berwarna(efeknya, butuh waktu lama untuk aku mendeskripsikan semua rasa senang ini...hmm). 

Dinas Pariwisata Kabupaten Semarang menjadi salah satu inisiator yang berhasil mengangkat dari segi ekonomi masyarakat berbasis kepariwisataan. Untuk mendukung kegiatan tersebut, Paket One Day Tour Kabupaten Semarang berhasil menarik minat para kaum mileninal. Dengan kemasan dan kegiatan yang menarik dan unik, kegiatan tersebut semakin menjadi favorit karena beda dari wisata yang lain.

3 paketan, min. 30 orang (fb;: desa wisata sumogawe)
60rb+ makan

Belum ada Komentar untuk "Saparan! Merasakan Silaturahmi Desa Sumogawe Kabupaten Semarang Yang Langka (Indonesia & English)"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel